Buy Nothing Day (BND) Campaign atau Kampanye Hari Tanpa Belanja (HTB)adalah kampanye tahunan yang kami adakan sejak tahun 2002. Pada awalnya, kampanye tersebut diinisiasi oleh Adbusters (Kanada) dan telah mendapat respon dari para 'cultural jammers' di seluruh dunia termasuk kami di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut Buy Nothing Day, silahkan buka www.adbusters.org, atau http://kunci.or.id/htb.
Tahun ini, HTB/BND akan kami adakan pada 21-22 November 2006, bertempat di Kinoki, sebuah ruang alternatif untuk sinema di Yogyakarta.
Beberapa kegiatan yang kami lakukan adalah pameran instalasi tentang sampah oleh Angki Purbandono, diskusi, serta peluncuran blog tentang kisah belanja orang Indonesia (http://kisahbelanja.blogspot.com). Blog ini kami luncurkan untuk mendokumentasikan kisah belanja orang Indonesia, perilaku konsumsi orang Indonesia, dan untuk masa depan, kami mengharapkan blog ini bisa menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin melakukan studi tentang konsumsi atau studi budaya materi dalam konteks Indonesia.
Nantikan transkrip diskusi "Hari Tanpa Belanja sebagai Gerakan Sosial Baru" bersama Dr Nicolaas Warouw, di blog ini!
Monday, November 27, 2006
Garbage From Jogja (1)
Angki Purbandono, seniman, tinggal di Yogyakarta, berpartisipasi dalam rangkaian Hari Tanpa Belanja 2006 yang berlangsung di Yogyakarta dan dilaksanakan oleh KUNCI Cultural Studies Center. Sampah, dan barang-barang bekas lain, menempati posisi penting dalam karya-karya Angki Purbandono selama tiga tahun terakhir. Kali ini Angki menyodorkan pertanyaan kepada kita semua tentang sampah, sisa dan jejak utama konsumsi--dan mungkin kapitalisme--yang kita produksi sehari-hari. Berapa banyak sampah yang kita produksi sehari-hari, seperti apakah wujudnya, dan dimanakah jalan akhir petualangan sampah kita? (Foto dokumentasi: Panitia Hari Tanpa Belaja 2006, KUNCI Cultural Studies Center)
Garbage From Jogja (2)
Pernahkah engkau benar-benar mengamati sampah-sampah yang kamu hasilkan selama 1 hari? Kertas dan daun pisang bekas bungkus sarapanmu, bungkus rokok kretekmu, plastik bekas bungkus Chiki atau Cheetos, plastik bekas kue muffin merek Stella (beli di Circle K), bungkus Indomie goreng, tutup botol teh botol sosro (kecanduan teh botol, dalam sehari minimal harus minum 2 botol), plastik bungkus keripik usus goreng, dsb. Berapa macam merek dan berapa jumlah kalori serta lemak yang kita konsumsi dalam 1 hari saja? (Foto dokumentasi: Panitia Hari Tanpa Belanja 2006, KUNCI Cultural Studies Center)
Garbage From Jogja (3)
Garbage From Jogja (4)
Selain memamerkan karya instalasi, Angki Purbandono juga mengajak pengunjung pameran dan mereka yang "merayakan" Hari Tanpa Belanja 2006 di Kinoki (Yogyakarta), 21-22 November 2006 lalu untuk ikut berinteraksi aktif dengan mendokumentasikan sampah yang mereka hasilkan selama beraktivitas pada hari itu. Sampah sehari-hari yang sudah diletakkan di plastik, lantas ditempelkan ke dinding. (Foto: Dokumentasi Panitia Hari Tanpa Belanja 2006, KUNCI Cultural Studies Center)
Mengkonsumsi Game
Mengkonsumsi game tentu berbeda rasanya dengan mengkonsumsi baju atau sepatu. Apalagi jika kita bicara tentang mereka yang sudah sampai taraf kecanduan dengan game. Rasanya mungkin seperti kecanduan sesuatu yang tidak berwujud tiga dimensi, tidak senyata seperti baju/sepatu/jam tangan, tetapi ini sepenuhnya berurusan dengan hasrat dan gairah--untuk menang, memuaskan rasa penasaran, dsb. Berikut ini adalah tiga cerita tentang tiga kisah konsumsi game. Selamat membaca!
Nuraini Juliastuti
Nuraini Juliastuti
Aku dan Game (1)
Aku memang suka game dari dulu, dan menurutku game itu memang selalu dirancang untuk membuat orang ketagihan. Yang membedakan game-game jaman sekarang dengan dulu adalah grafis dan jalinan ceritanya (narasi dan struktur cerita) yang sudah banyak berkembang.
Jenis game yang aku suka: Winning Eleven. Sebelumnya aku suka main game-game perang. Aku tidak suka game-game strategi, karena menurutku hidup sehari-hariku sudah cukup rumit. Aku mengelola ruang alternatif—Kedai Kebun Forum—yang bagiku seperti game yang harus kumainkan seumur hidup. Untuk bermain-main, aku suka game dengan awal dan akhiran yang jelas. Winning Eleven itu seperti suspended victory. Kalau tim sepak bola kesayanganmu kalah, mainkan saja di alam virtual dan menangkan!
Aku tidak merasa sekedar bermain-main dengan mesin ketika main Winning Eleven, tetapi justru menurutku permainan ini mempererat hubungan antar manusia karena bisa dimainkan bersama-sama dan kita bisa saling berinteraksi disitu.
Narasumber: Agung Kurniawan, seniman, tinggal di Yogyakarta.
Pewawancara: Nuraini Juliastuti (KUNCI Cultural Studies Center)
Jenis game yang aku suka: Winning Eleven. Sebelumnya aku suka main game-game perang. Aku tidak suka game-game strategi, karena menurutku hidup sehari-hariku sudah cukup rumit. Aku mengelola ruang alternatif—Kedai Kebun Forum—yang bagiku seperti game yang harus kumainkan seumur hidup. Untuk bermain-main, aku suka game dengan awal dan akhiran yang jelas. Winning Eleven itu seperti suspended victory. Kalau tim sepak bola kesayanganmu kalah, mainkan saja di alam virtual dan menangkan!
Aku tidak merasa sekedar bermain-main dengan mesin ketika main Winning Eleven, tetapi justru menurutku permainan ini mempererat hubungan antar manusia karena bisa dimainkan bersama-sama dan kita bisa saling berinteraksi disitu.
Narasumber: Agung Kurniawan, seniman, tinggal di Yogyakarta.
Pewawancara: Nuraini Juliastuti (KUNCI Cultural Studies Center)
Aku dan Game (2)
Gue kenal game dari kecil, dan sudah main game online sejak awal 2003. Jenis game favorit yang gue maenin adalah Ragnarok online, Ts-online. Dalam sehari rutinnya 12 jam, kalo lagi ngebet bisa 15-20 jam, semalam/sekali maen minimal 15rb, kalo lagi lebih ya bisa sampe 30rb semalam. Biaya itu terutama buat kebutuhan tambahan kayak makan dan minum dll.
Buat gue ngegame itu untuk memenuhi rasa puas dari hobby, dan lebih banyak temen baru. Untuk bisa memenuhi kebutuhan ngegame, yang jelas butuh 1 set komputer yang spesifikasinya mendukung game, dan tersambung internet. Dan semua sudah bisa gw dapet di warnet gamestation. Kalo di rumah yang kurang koneksi internetnya. Saat ini yang gue maenin cuma game-game online aja: ragnarok online, ts online, tantra, RYL,Getamped.
Teknologi buat gue adalah sesuatu yang luar biasa, hanya saja jangan sampe salah digunakan tapi gw ga setuju kalo teknologi-teknologi tertentu seperti game online dimainkan oleh anak dibawah umur. Seharusnya ada batasan umur dalam menggunakannya. Karena di game online kita tidak pernah tau umur yang maen kecuali mungkin yang udah lama kenal. Karena banyak juga anak di bawah umur yang maen hampir sama waktunya dengan orang dewasa, yang begadang tiap malam. Kayaknya gak pantes anak kecil begadang sama orang dewasa tiap malam.
Ngegame punya pengaruh besar banget buat gue, sampe rela ga makan hanya untuk bisa maen didepan komputer. Rasanya hmm seperti ga ketemu pacar sehari ^^ kalo nggak ngegame, pokoknya bener-bener yang penasaran dan BT karena ga bisa maen. Game impian gue adalah game online yang se-real mungkin dengan kehidupan nyata. Dimana kita bisa menjadi seseorang yang kita inginkan dengan kehidupan-kehidupan seperti di dunia nyata ^^.
Yang lucu-lucu soal game-online menurut pengalaman gue; ada temen cowok di game online yang suka banget sama cewek di game itu (karakter perempuannya) dan temen gw itu percaya banget kalo orang itu cewek. Setelah beberapa minggu kenal, dan deket di game itu, dia ketemu sama orang yang maen satu warnet dengan karakter perempuan itu, lalu bilang kalo yang maenin karakter itu ternyata cowo. Hahaha.
Persiapan maen game itu tergantung dari keadaan keuangan. Kalo lagi ada lebih, yang jelas minuman dan cemilan itu harus ada, tapi kalo lagi kekurangan ya sebotol aqua cukup^^. Bahkan kalo lagi menderita lagi, ya sampe bela-belain ngutang ama temen dulu..
Para pengguna game online di warnet itu paling benci / anti sama komunitas pengguna internet untuk kebutuhan download/upload dan chatting hehe, karena kegiatan itu bisa menggangu koneksi jalannya game online. Karena koneksinya jadi berat dan gamenya jadi lambat. Temen gw ada yang nginep 4 hari nonstop di warnet gak pulang-pulang. Yang jelas yang kaya gitu itu butuh modal gede, buat bayar warnet dan mesen makan dan minum dan kalo mau mandi numpang di toilet warnet,tapi kebanyakan gak mandi ^^.
Para gamers di game center itu umumnya (yang gw tau malam doank karena gw maen malem doank, siang kalo ada janjian aja.^^) itu biasanya gak lepas dari jaket, sebotol aqua, dan cemilan. Kalo gak bawa itu ya bawa uang lebih buat beli makanan dan minuman buat tengah malem, dan juga sebagian selalu membawa bawa buku pegangan atau petunjuk dalam memainkan beberapa game online tertentu.
Narasumber: Inoe (23 tahun), Mahasiswa Manajemen Universitas Gunadharma, Jakarta. Pewawancara: Anissa Muharami (KUNCI Cultural Studies Center)
Buat gue ngegame itu untuk memenuhi rasa puas dari hobby, dan lebih banyak temen baru. Untuk bisa memenuhi kebutuhan ngegame, yang jelas butuh 1 set komputer yang spesifikasinya mendukung game, dan tersambung internet. Dan semua sudah bisa gw dapet di warnet gamestation. Kalo di rumah yang kurang koneksi internetnya. Saat ini yang gue maenin cuma game-game online aja: ragnarok online, ts online, tantra, RYL,Getamped.
Teknologi buat gue adalah sesuatu yang luar biasa, hanya saja jangan sampe salah digunakan tapi gw ga setuju kalo teknologi-teknologi tertentu seperti game online dimainkan oleh anak dibawah umur. Seharusnya ada batasan umur dalam menggunakannya. Karena di game online kita tidak pernah tau umur yang maen kecuali mungkin yang udah lama kenal. Karena banyak juga anak di bawah umur yang maen hampir sama waktunya dengan orang dewasa, yang begadang tiap malam. Kayaknya gak pantes anak kecil begadang sama orang dewasa tiap malam.
Ngegame punya pengaruh besar banget buat gue, sampe rela ga makan hanya untuk bisa maen didepan komputer. Rasanya hmm seperti ga ketemu pacar sehari ^^ kalo nggak ngegame, pokoknya bener-bener yang penasaran dan BT karena ga bisa maen. Game impian gue adalah game online yang se-real mungkin dengan kehidupan nyata. Dimana kita bisa menjadi seseorang yang kita inginkan dengan kehidupan-kehidupan seperti di dunia nyata ^^.
Yang lucu-lucu soal game-online menurut pengalaman gue; ada temen cowok di game online yang suka banget sama cewek di game itu (karakter perempuannya) dan temen gw itu percaya banget kalo orang itu cewek. Setelah beberapa minggu kenal, dan deket di game itu, dia ketemu sama orang yang maen satu warnet dengan karakter perempuan itu, lalu bilang kalo yang maenin karakter itu ternyata cowo. Hahaha.
Persiapan maen game itu tergantung dari keadaan keuangan. Kalo lagi ada lebih, yang jelas minuman dan cemilan itu harus ada, tapi kalo lagi kekurangan ya sebotol aqua cukup^^. Bahkan kalo lagi menderita lagi, ya sampe bela-belain ngutang ama temen dulu..
Para pengguna game online di warnet itu paling benci / anti sama komunitas pengguna internet untuk kebutuhan download/upload dan chatting hehe, karena kegiatan itu bisa menggangu koneksi jalannya game online. Karena koneksinya jadi berat dan gamenya jadi lambat. Temen gw ada yang nginep 4 hari nonstop di warnet gak pulang-pulang. Yang jelas yang kaya gitu itu butuh modal gede, buat bayar warnet dan mesen makan dan minum dan kalo mau mandi numpang di toilet warnet,tapi kebanyakan gak mandi ^^.
Para gamers di game center itu umumnya (yang gw tau malam doank karena gw maen malem doank, siang kalo ada janjian aja.^^) itu biasanya gak lepas dari jaket, sebotol aqua, dan cemilan. Kalo gak bawa itu ya bawa uang lebih buat beli makanan dan minuman buat tengah malem, dan juga sebagian selalu membawa bawa buku pegangan atau petunjuk dalam memainkan beberapa game online tertentu.
Narasumber: Inoe (23 tahun), Mahasiswa Manajemen Universitas Gunadharma, Jakarta. Pewawancara: Anissa Muharami (KUNCI Cultural Studies Center)
Subscribe to:
Posts (Atom)
