Saturday, November 18, 2006

Aku dan Kartu Kredit

Kartu kredit atau credit card adalah produk Bank yg menawarkan jasa kredit menggunakan kartu plastik. Kita bisa bertransaksi secara cash ataupun non cash (tarik tunai). Kita diajak berhutang pada Bank dengan cara yg lebih bergengsi. Umumnya orang akan bangga jika sudah mempunyai kartu kredit. Apalagi jika dia sampai mempunyai lebih dari satu kartu kredit.

Awalnya target market kartu kredit adalah kalangan atas, karena Bank percaya mereka pasti mampu membayar dana dipergunakan dari kartu kredit mereka, ataupun minimal paymentnya. Dan syarat-syaratnya juga agak susah, yaitu keterangan dari HRD ditempat kerja calon Debitor, berikut slip gajinya. Dan Bank juga memberi batasan minimal gaji pertahun untuk seseorang bisa mengajukan permohonan kartu kredit ini.

Persyaratan ini kemudian semakin mudah dengan pertimbangan Bank akan memberikan limit dana kecil, dengan diimbangi divisi kolektor yg galak dan debt kolektor yg kejam tanpa kompromi.

Awal kertertarikanku dengan kartu kredit saat aku bekerja di salah satu kantor di kawasan Sunter (PT.R). Ada marketing dari Bank penerbit kartu kredit yg menawarkan apakah kami ingin membuat kartu kredit, sembari membagi-bagikan formulir. Beberapa teman dengan antusias mengisi formulir dan melengkapi persyaratanya.

Selang beberapa waktu kemudian ada teman yg telah medapatkan approval dan mendapatkan kartu kreditnya ada pula yg
permohonannya ditolak. Saat itu aku tidak punya keberanian untuk mengajukan permohonan jartu kredit karena gajiku masih dibawah standart yg disayaratkan oleh Bank penerbit kartu kredit ini.

Beberapa bulan kemudian aku pindah kerja ke PT. M di daerah Ancol, dan mendapatkan gaji yg lebih baik dari tempat kerjaku sebelumnya. Dan aku mulai tergoda untuk memiliki kartu kredit. Kartu kredit pertamaku aku dapatkan atas bantuan teman dari adikku yg memang bekerja sebagai marketing kartu kredit di Bank S. Dan aku tidak kesulitan untuk melengkapi persyaratannya karena HRD Managerku sangat kooperatif.

Ketika aku menunggu dengan tidak sabar apakah permohonanku dikabulkan atau tidak, aku iseng mengajukan permohonan kartu kredit di Bank H. Dan ketika aku sedang menunggu kedatangan kartu kreditku dari Bank H, ternyata justru aku mendapatkan kartu kredit dari Bank S dengan limit 4 juta. Beberapa hari kemudian datanglah kartu kredit keduaku dari Bank H degan limit yg sama 4 juta.

Mulailah kegiatan konsumtifku diwarnai dengan penggesekan kartu kredit. Mulai dari membeli TV, belanja bulanan, membeli buku,membeli baju semua pakai kartu.

Dan karena aku memiliki 2 kartu, adikku menawarkan diri bagaimana jika kartu yg lain dia yg memakai, dan dia pula yg akan bertanggung jawab dengan pembayarannya. Dengan sukarela kartu kredit dari Bank H aku berikan penggunaannya sepenuhnya ke adikku. Tetapi kartu tetap ditanganku, sehingga ketika dia akan belanja, aku akan menemani dia untuk menggesek kartu itu, dan dia tidak perlu memalsukan tanda tanganku.

Ketika kartuku sudah limit, aku berkeinginan untuk memiliki kartu kredit lagi, karena aku merasa bahwa aku hanya mempunyai satu kartu kredit, tidak ada salahnya kalau aku punya dua kartu kredit. Dan kartu kredit yg ketiga ini aku dapatkan dari program member get member dari Bank C dengan limit 6,5 juta. Dan karena kebutuhan keluarga mendesak aku juga mengajukan kredit tanpa agunan dari Bank A. Dan kebetulan juga disetujui sebanyak 4 juta rupiah.

Dengan memiliki 3 kartu kredit dan 1 KTA total hutangku adalah 18,5 juta rupiah. Aku harus merelakan 75% dari pendapatanku untuk membayar cicilan KTA beserta minimal payment kartu kreditku. Aku tidak berani meyisihkan uangku untuk membeli baju, atau sekedar jalan-jalan ke Mall (menghindari godaan shopping).

Kegiatan financialku ini bisa berjalan dengan lancar, jika aku selalu dalam kodisi sehat, sehingga tidak ada extra pengeluaran untuk dokter & obat. Tetapi ketika aku sakit, dan terpaksa harus ke dokter da membeli obat, mulailah aku terjebak dalam ritme financial yg paling buruk gali lubang tutup lubang, aku mencari kreditor baru(teman / saudara) yg bersedia meminjamkan uangnya yg akan kupakai untuk membayar hutangku, dan ketika aku menerima gaji, aku segera melunasinya. Hal ini sering kali terjadi, dan adikku juga ingkar janji, ketika kartunya sudah limit, dia kembalikan tanggung-jawab pembayaran hutangnya padaku, dan aku tidak bisa mengelak karena yg tercantum namanya di kartu kredit itu adalah aku.

Semakin berat bebanku, akhirya aku minta pertolongan Kakak untuk meringankan sementara bebanku ini. Dia bersedia meminjamkan uangnya utuk menutup salah satu kartuku, kemudian aku mengembalikannya dengan mencicil sesuai kemampuanku.

Adek (Jakarta)

No comments: